Studi Kasus: Langkah-langkah Diagnostik Kesulitan Belajar

 1. Langkah-langkah Diagnostik Kesulitan Belajar

Image result for DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

Secara operasional langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi kasus kesulitan belajar.

Pada suatu kelompok siswa yang berdistribusi normal, sudah dapat diperkirakan adanya jumlah kasus hipotetik kesulitan belajar sekitar 10-20% dari keseluruhan populasi kelompok tersebut. Yang menjadi persoalan sekarang ialah bagaimana caranya membuktikan kasus tersebut di dalam praktik. Dengan kata lain, siapa-siapa siswa di dalam kenyataannya yang memerlukan bantuan itu. Dengan menghimpun dan menganalisis data hasil belajarnya serta menafsirkan dengan mempergunakan criterion-referenced atau norm-referenced (PAP atau PAN).

  1. Identifikasi masalah

Dalam langkah identifikasi masalah meliputi antara lain:

  • Mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu

Sebenarnya tidaklah terlalu sulit untuk menjawab persoalan, apakah kesulitan itu terjadi pada beberapa atau hanya salah satu bidang studi tertentu, yaitu dengan jalan membandingkan nilai prestasi individu yang bersangkutan. Dari semua bidang studi yang diikutinya atau angka nilai rata-rata prestasi (mean) dari setiap bidang studi kalau kebetulan kasusnya adalah kelas maka dengan mudah kita akan menemukan pada bidang studi manakah individu atau kelas itu mengalami kesulitan.

  • Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran manakah kesulitan terjadi

Pada langkah ini pendekatan yang paling tepat (kalau ada) seyogyanya menggunakan tes diagnostik. Dengan demikian, dalam keadaan belum tersedia tes diagnostik yang khusus dipersiapkan untuk keperluan ini maka analisis masih tetap dapat dilangsungkan dengan menggunakan naskah jawaban (answer sheets) tes ulangan umum (TPB) triwulan atau semesteran.

  1. Identifikasi faktor penyebab kesulitan belajar

a)  Faktor-faktor yang terdapat dalam diri siswa, antara lain

Kelemahan secara fisik, seperti :

  • suatu pusat susunan syaraf tidak berkembang secara sempurna karena luka atau cacat atau sakit sehingga sering membawa gangguan emosional;
  • panca indra (mata, telinga, alai bicara, dan sebagainya) mungkin berkembang kurang sempurna atau sakit (rusak) sehingga menyulitkan proses interaksi secara afektif-,
  • ketidakseimbangan perkembangan dan reproduksi serta berfungsinya kelenjar-kelenjar tubuh sering membawa kelainan-kelainan perilaku kurang terkoordinasikan dan sebagainya
  • cacat tubuh atau pertumbuhan yang kurang sempurna, organ dan anggota-anggota badan (tangan, kaki, dan sebagainya) sering pula membawa ketidakstabilan mental dan emosional;
  • penyakit menahun (asma dan sebagainya) menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.

Kelemahan-kelemahan secara mental (baik kelemahan yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman) yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan dan juga oleh pendidikan, antara lain:

  • kelemahan mental (taraf kecerdasannya memang kurang);
  • tampaknya seperti kelemahan mental, tetapi sebenarnya kurang minat, kebimbangan, kurang usaha, aktivitas yang tidak pernah, kurang semangat (kurang gizi, kelelahan atau overwork, dan sebagainya), kurang menguasai keterampilan, dan kebiasaan fundamental dalam belajar.

Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain :

  • terdapat rasa tidak aman (insecurity)
  • penyesuaian yang salah (maladjustment) terhadap orang‑orang, situasi, dan tuntutan-tuntutan tugas dan lingkungan;
  • tercekam rasa phobia (takut, benci, dan antipati), mekanisme pertahanan diri;
  • ketidakmatangan (immaturity)

Tidak memiliki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang tidak diperlukan, seperti :

  • Ketidakmampuan membaca, menghitung, kurang menguasai pengetahuan dasar untuk suatu bidang studi yang sedang diikuti secara sekuensial (meningkat dan berurutan), kurang menguasai bahasa (Inggris misalnya);
  • Memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah

b)  faktor-faktor yang terletak di luar diri siswa (situasi sekolah dan masyarakat), antara lain:

  • kurikulum yang seragam (uniform), bahwa dan buku-buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat-tingkat kematangan dan perbedaan-perbedaan individu;
  • ketidaksesuaian standar administratif (sistem pengajaran), penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar­ mengajar dan sebagainya;
  • terlalu berat beban belajar (siswa) dan/atau mengajar (guru);
  • terlalu besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar, dan sebagainya;
  • terlalu sering pindah sekolah atau program, tinggal kelas, dan sebagainya;
  • kelemahan dari sistem belajar-mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan (dasar/asal) sebelumnya;
  • kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga (pendidikan, status sosial ekonomi, keutuhan/keluarga, besamya anggota keluarga, tradisi dan kultur keluarga, ketenteraman dan keamanan sosial psikologis dan sebagainya);
  • terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler;
  • kekurangan makan (gizi, kalori, dan sebagainya)
  1. Prognosis Mengambil Kesimpulan dan Meramalkan kemungkinan penyembuhan

Seperti dijelaskan dalam paragraf pertama bahwa berdasarkan hasil analisis diagnostik seperti kita pelajari dalam paragraf kedua dan ketiga; kita hendaknya: (1) menarik suatu kesimpulan umum/meskipun hanya secara tentatif, (2) membuat pemikiran apakah masalah itu mungkin untuk diatasi, selanjutnya (3) memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya.

  1. Rekomendasi bagi pelaksanaan pemecahannya dan referral

Berdasarkan hasil perkiraan dan identifikasi alternatif kemungkinan pemecahan tersebut, maka langkah selanjutnya yang dikerjakan oleh guru ialah membuat rekomendasi alternatif tindakan yang akan ditempuh untuk melaksanakan pemecahannya.

Rekomendasi tersebut mungkin pula untuk guru bidang studi yang bersangkutan, kalau ternyata dari analisis menghasilkan kesimpulan bahwa alternatif pemecahan itu lebih bersifat remedial teaching; sedangkan kalau masalah dan alternatif pemecahannya disarankan lebih bersifat counseling atau psychotherapy atau medical treatment maka tugas guru hanya membuat referral.

2. Remedial Kesulitan Belajar Siswa

Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar. Berikut ini terdapat beberapa langkah pendeskripsian fungsi, tujuan/sasaran, dan kegiatan remedial kesulitan belajar sebagai berikut.

Penelaahan kembali kasus dengan permasalahannya

Langkah ini merupakan tahapan paling fundamental dalam pengajaran remedial karena merupakan landasan utama langkah – langkah kegiatan berikutnya. Sasaran pokok langkah ini ialah:

  • Diferennya gambaran yang lebih definitive mengenai karakteristik kasus serta permasalahannya
  • Diperolehnya gambaran lebih defintif mengenai fasibilitas alternative tindakan remedial yang direkomendasikan

Berdasarkan hasil telaahan diatas duharapkan terjawab pertanyaan berikut

  1. Siapa kasus yang perlu ditangani itu?
  2. Seberapa jauh tingkat kelemahaannya secara umum dipandang dari segi kriteria yang diharapkan?
  3. Dimanakah letak kelamahaannya dipanadang dari ruang lingkup dan urutan bidang yang bersangkutan?
  4. Pada tungkat dan kawasan hasil belajar manakah kasus itu mengalami kelemahan dipandang dari tujuan-tujuan pendidikan?
  5. Faktor manakah merupakan penyebab utama dipandang dari segi siswa yang bersangkutan?
  6. Faktor manakah yang mungkin menjadi penyebab utama dari kompnen instrumental input (sarana penunjang) PBM yang bersangkutan?
  7. Faktor manakah yang terdapat dalam lingkungan yang diduga merupakan sumber utama kesulitan?
  8. Apakah komponen output ikut juga salah satu sebab kesulitan belajar?
  9. Apakah perkiraan tentang kemungkinan penangannya cukup teliti dan beralasan?
  10. Apakah alternative yang direkomendasikan?

Menentukan alternatif pilihan tindakan

Langkah ini merupakan lanjutan logis dari langkah pertama. Dari hasil penelaahan yang kita lakukan pada langkah pertama itu akan diperoleh kesimpulan mengenai dua hal pokok, yaitu:

a)  Karakteristik khusus yang akan ditangani secara umum, dapat dikategorikan pada salah satu dari tiga kemungkinan dibawah ini :

  • Kasus yang bersangkutan dapat disimpulkan disamping memiliki kesulitan dalam menemukan dan mengembangkan pola/strategi/metode/teknik belajar yang lebih sesuai, efektif dan efisien.
  • Kasus yang bersangkutan dapat disimpulkan disamping memiliki kesulitan dalam menemukan dan mengembangkan pola/strategi/metode/teknik belajar yang lebih sesuai, efektif dan efisien itu, juga dihadapkan kepada hambatan – hambatan ego-emosional, potensial-fungsional, sosial-psikologis dalam penyesuaian dengan dirinya dan lingkungannya.
  • Kasus yang bersangkutan disimpulkan telah memiliki kecenderungan ke arah kemampuan menemukan dan mengembangkan pola – pola strategi namun terhambat oleh ego-emosional, potensial-fungsional, sosial-psikologis dan faktor instrumental-enviromental lainnya.

b)  Alternatif pemecahannya, mungkin lebih strategis jika:

  • Langsung kepada langkah keempat (pelaksanaan pengajaran remedial), misalnya kalau kasusnya termasuk kategori yang pertama.
  • Harus menempuh dahulu langkah ketiga (layanan BK/psikoterapi) sebelum lanjut ke langkah ke 4 jika kasusnya termasuk kategori kedua atau ketiga.

c)  Layanan bimbingan dan konseling / psikoterapi

Langkah ini pada dasarnya bersifat pilihan bersyarat ditinjau dari kerangka keseluruhan prosedur pengajaran remedial. Sasaran pokok yang hendak dituju oleh layanan ini ialah terciptanya kesehatan mental kasus, dalam arti ia terbatas dari hambatan dan ketegangan batinnya untuk kemudian siap sedia kembali melakukan kegiatan belajar secara wajar realistis. Diantara sekian banyak masalah kesulitan penyesuaian, yang masih dapat ditangani para guru pada umunnya antara lain :

  1. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang kurangnya motivasi dan minat belajar.
  2. Kasus kesulitan belajar yang berlatar belakang sikap negative terhadap guru, pelajaran dan situasi belajar.
  3. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang kebiasaan belajar yang salah.
  4. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang ketidakserasian antara kondisi objektif keragaman pribadinya dengan kondisi objektif instrumental input dan lingkungannya.

d)  Melaksanakan pengajaran remedial

Dengan terciptanya prakondisi seperti yang telah dijelaskan diatas langkah keempat yang harus dilaksanakan adalah pengajarab remedial. Sasaran pokok dari setiap pengajaran remedial ini ialah tercapainya peningkatan prestasi atau kemampuan penyesuaian diri sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan.

e)  Mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali

Dengan selesainya dilakukan pengajaran remedial maka dideteksi ada atau tidaknya perubahan pada diri kasus. Oleh karena itu diadakan pengukuran kembali, hasilnya akan memberikan informasi seberapa jauh atau seberapa besar perubahan telah terjadi, baik dalam arti kuantitatif maupun kualitatif.

f)  Mengadakan re-evaluasi dan re-diagnostik

Pada akhirnya hasil pengukuran harus ditafsirkan dan ditimbang kembali dengan mempergunakan cara dan kriteria untuk kegiatan belajar. Hasil penafsiran dan pertimbangan ini akan membawa tiga kemungkinan kesimpulan :

  1. Kasus menunjukan peningkatan prestasi dan kemampuan penyesuaian dirinya dengan mencapai kriteria keberhasilan minimum seperti yang diharapkan.
  2. Kasus menunjukan peningkatan prestasi dan kemampuan penyesuaian dirinya namun masih belum sepenuhnya memadai kriteria keberhasilan minimum yang diharapkan.
  3. Kasus belum menunjukan perubahan yang berarti, baik dalam segi prestasinya maupun dalam kemampuan penyesuaian dirinya.

g)  Remedial pengayaan dan atau pengukuran (tambahan)

Seperti halnya langkah ketiga, langkah ini pun bersifat pilihan yang kondisional. Ada atau tidaknya kesempatan pada pihak guru dan siswa daya dukung fasilitas teknis, serta sarana penunjang yang diperlukan. Sasaran pokok langkah ini ialah agar hasil remedial itu lebih sempurna dengan diadakan pengayaan dan pengukuhan

3. Implikasi

Melalui perkuliahan tentang langkah-langkah  operasional  diagnostik  dan  remidial kesulitan belajar, sebagai calon pendidik kita bisa mengetahui langkah-langkah operasional mendiagnostik kesulitan belajar. Karena kemampuan setiap siswa itu tidak sama rata, melainkan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Jika diibaratkan kemampuan siswa itu sebagai kurva distribusi normal dengan keadaan kemampuan yang berbeda. Hal ini bisa dipengaruhi berbagai macam faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Setelah mendiagnosis kesulitan belajar tersebut, maka salah satu bentuk solusi pembelajaran yang ditawarkan yaitu remedial kesulitan belajar yang akan membantu siswa dengan kemampuan kurang untuk meningkatkan prestasinya. Oleh karena itu, langkah-langkah ini sangat perlu dipelajari oleh seorang pendidik.

REFERENSI

Abin, S.M. (2002) Psikologi Pendidikan : Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Makmun Abin Syamsudin. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s